Rabu, Juni 10, 2009

Tentang saya dan jilbab bag. 2

Sebelumnya, silahkan intip dulu bagian pertama dari rangkaian tulisan saya ini. Mungkin kalo dibaca dari awal sampai akhir, bisa mengurangi kemungkinan terjadi salah paham, begicuw... :D

Sekali lagi, saya mohon maaf banget kalo ada yang tersungging bin tersinggung dengan bagian kedua ini. But hey, there's no way I can please everybody [each of you] with my writing anyway. So why should stop writing?

intinya dari kedua tulisan ini : masyarakat mungkin sebagian berharap kita langsung menjadi PERFECT by the time we use this JILBAB.

Begitu mengenakan jilbab dan menutupi kepala ini maka langsng CLING... JADI SEMPURNA DAN TANPA CELA. ya gak semua begitu pengharapannya kepada kita-kita ini jilbabers. Tapi paling nggak mereka ber-ekspektasi [dan ekspetasi mereka itu WAJAR adanya] bahwa kita bisa BERBEDA dari yg non-jilbabers. Dari kelakuan maupun penampilan.

Dan sungguh, sampai tahun ke-5 ini, saya merasa dari banyaaaaaak aspek masih banyak yang harus diperbaiki dari diri ini. Mengutip kata seorang teman yang dulu memberikan beberapa jilbabnya kepada saya :
JILBAB itu ibarat SERAGAM SEKOLAH bagi para muslimah [baik yang sudah maupun belum berjilbab]. Ibaratnya begini : Murid sekolah yang nakal maupun yang alim, yang pinter maupun yang kurang pinter, atau mereka yang sedang-sedang saja.... SEMUA WAJIB BERSERAGAM KAN?

Eventhough pada seragam sekolah jaman sekarang, para siswinya banyak yang MELANGGAR ATURAN dengan memendekkan rok, mengetatkan kemeja... atau seragam yang dikeluarkan dari rok, atau sepatu yang tidak sesuai peraturan, tidak memakai badge nama/ sekolah, tidak memakai sabuk..itu semua tidak menghapus syarat dan prasyarat bahwa memang siswi sekolah wajib berseragam sekolah... bukan berarti bahwa siswi yang tidak berseragam sesuai aturan lantas BOLEH tidak berseragam sekolah kan? got my point?

Tidak, saya tidak bermaksud menghakimi anda. Menghakimi diri sendiri mungkin ya, hehehe... Sekali lagi, kesempurnaan hanya milik-NYA.

Namun itu bukan berarti kita bisa lengah dan bersembunyi dibalik excuse itu [bahwa tak ada manusia yang sempurna]. Sebagai muslimah [terutama yang berjilbab], kita harus senantiasa bisa berusaha menjadi lebih baik; kontinyu & konsisten berproses menuju jalan yang lebih baik. Akhlaq maupun penampilan.

Jujur aja neh, 5 tahun lalu pas sebelum berjilbab saya mikir gini : [setting : tahun 2000] >> "Kalo nunggu perbaikan akhlak, sampe 10 tahun kedepan ya kapan saya bisa berjilbab? Lha wong merubah sifat itu lebih susah daripada merubah penampilan, ya gak *digampar massa* "

Ya udah, akhirnya saya mengambil keputusan untuk berubah sambil 'jalan'. Berubah menuju yang lebih sesuai syariat, baik akhlaq maupun penampilan. Dalam kasus saya, penampilan dulu yang dibenerin dikit... sisanya menyusul sambil berproses.

Akhir kata, saya hanya bisa berharap bahwa semakin hari saya bisa semakin sesuai syariat. Dan ALLAH SWT memberikan umur yang cukup panjang bagi saya supaya saya bisa berkesempatan untuk BERUBAH. Jangan sampai besok misalkan [ini cuma contoh] saya meninggal tapi saya masih begini-gini aja, ya ALLAH.... Amien amien.

Ya ALLAH yang Maha Pemurah dan Pengasih dan Penyayang... Berilah kemudahan bagi kami kaum muslimah [dan muslimin] untuk bisa berada dalam proses seumur hidup, proses untuk senantiasa berubah menjadi lebih baik, sesuai tuntunan yang telah tertulis di Al- Quran dan Al- Hadis. AMIEN.

-sekian dan mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan :)

2 komentar:

Dya Ariessa Wee mengatakan...

oke..oke
setuju2..
~wew, di balik wajahnya miss tyka yang "polos" ternyata juga bisa berkata serius dan bijak beud..

Jess mengatakan...

Iya bu,, setuju banget ane..

Tergantung individualnya juga,,
saya pernah mengalami hal yg bikin saya shocked. Suatu sore, ketika saya masih berumur 12 atau 13 tahun, saya dibonceng naik sepeda onthel sama mbak saya. Melewati jalan ketintang wiyata raya, dari belakang saya tiba2 ada tangan yang coba menarik kalung yang saya kenakan. Saya terkejut sekali ketika melihat pelakunya ternyata mengenakan jilbab. "astagfirullah" dalam hati saya berucap. (saya bukan muslimin, tapi kehidupan sehari2 saya sangat erat dgn kaum Muslim.) Saya cuma bisa ngelus dodo...